Sindrom Nefrotik

Sindrom Nefrotik

Ginjal adalah organ tubuh yang berfungsi untuk mengeluarkan kotoran dari darah dan menjaga keseimbangan nutrisi, air, dan garam. Sindrom nefrotik adalah penyakit ginjal yang mengganggu keseimbangan tersebut. Ginjal dapat membersihkan darah melalui sebuah penyaring yang bernama nefron. Ketika seseorang terkena sindrom nefrotik, berarti nefronnya mengalami kerusakan, sehingga protein juga akan ikut dikeluarkan dari tubuh bersama dengan kotoran lainnya.

Albumin dapat mengendalikan volume darah, sedangkan globulin mengandung protein antibodi yang membantu tubuh melawan infeksi. Karena sindrom nefrotik, kedua protein penting ini akan dikeluarkan dari tubuh, dan menyebabkan berbagai gejala. Kondisi ini juga dapat menyebabkan komplikasi yang serius, seperti gagal ginjal akut, penyakit ginjal kronis, dan gagal jantung kongestif.

Penyebab

Pada kondisi normal, urine biasanya tidak mengandung protein. Glomeruli atau sekelompok pembuluh darah dalam ginjal akan menyaring darah dan memisahkan zat yang dibutuhkan tubuh dari limbah. Tetapi jika terjadi kerusakan atau ‘kebocoran’ pada glomeruli, tubuh akan kehilangan protein secara berlebihan dan mengeluarkannya lewat urine.

Kerusakan pada glomeruli inilah yang gejala utama sindrom nefrotik. Terdapat berbagai jenis penyakit serta kondisi kesehatan yang bisa menyebabkan kerusakan ini, misalnya:

  1. Glomerulonefritis perubahan minimal. Penyakit ini memicu fungsi abnormal pada ginjal, tapi sampel jaringan dari ginjal penderitanya akan tampak normal atau mendekati normal saat diperiksa di bawah mikroskop. Diperkirakan sekitar 90 persen sindrom nefrotik pada anak disebabkan oleh penyakit ini.
  2. Nefropati diabetes atau komplikasi ginjal akibat diabetes.
  3. Glomerulosklerosis atau terbentuknya jaringan parut pada glomeruli
  4. Nefropati membranosa atau glomerulonefritis membranosa. Penyakit ini menyebabkan penebalan pada membran glomeruli dan merupakan penyebab umum sindrom nefrotik pada penderita dewasa.
  5. Beberapa jenis kanker, seperti kanker darah (leukemia) dan limfoma
  6. Lupus
  7. Infeksi tertentu, seperti HIV, hepatitis, serta sifilis.
  8. Peradangan – peradangan lokal atau kerusakan pada filter ginjal. Pada kondisi ini, pengobatan biasanya tidak menyelesaikan masalah, dan ginjal dapat secara bertahap kehilangan kemampuannya untuk menyaring limbah dan kelebihan air dari darah.

Baca juga: makanan pantangan penderita batu ginjal

Gejala

1 .Tidak nafsu makan
Gejala berikutnya ialah terganggunya nafsu makan anak. Seorang ibu harus curiga ketika buah hatinya tidak mau makan karena bisa jadi anak menderita sakit tertentu, misalnya sindrom nefrotik ini.

2 .Urin berbusa

Adanya kandungan protein yang tinggi pada urin menyebabkan urin yang dikeluarkan anak menjadi berbusa. Waspadai gejala ini, karena urin berbusa adalah indikator utama adanya masalah dalam ginjal.

3 .Pembengkakan di bagian tubuh tertentu

Anak yang menderita sindrom nefrotik biasanya akan mengalami pembengkakan (edema) di bagian kaki dan sekitar mata. Mata menjadi sembab dan kaki membesar. Pembengkakan abnormal adalah pembengkakan yang tidak keras melainkan lembek ketika kaki dipegang.

4 .Pengecilan otot-otot tubuh

5 .Pusing saat berdiri dari berbaring atau posisi duduk, disebut hipotensi ortostatik

6 .Sakit perut

Diagnosis

1. Tes darah. Kadar protein albumin yang rendah dalam darah akan menunjukkan Anda mengidap sindrom nefrotik. Tes darah juga digunakan untuk mengevaluasi fungsi ginjal.

2. Tes urine. Kadar protein yang tinggi dalam urine mengindikasikan sindrom nefrotik. Anda biasanya diminta untuk memberikan sampel-sampel urine selama 24 jam untuk memastikan diagnosis.

3. Biopsi ginjal. Prosedur ini digunakan untuk mengambil sampel jaringan pada ginjal yang kemudian akan diperiksa di laboratorium.

4. Computed Tomography (CT) scan atau magnetic resonance imaging (MRI)

5. USG ginjal – pencitraan organ ginjal menggunakan gelombang suara.

Pengobatan

Penanganan sindrom nefrotik berbeda-beda untuk tiap penderita. Penentuan jenis pengobatan tergantung pada penyakit yang menyebabkan kondisi tersebut.

Dokter juga umumnya menganjurkan obat-obatan untuk mengurangi gejala atau menangani komplikasi yang Anda alami. Contoh obat-obatan tersebut adalah:

1. Diuretik yang berfungsi untuk membuang cairan yang berlebihan dari dalam tubuh melalui urine.

2. Obat antihipertensi untuk menurunkan tekanan darah tinggi.

3. Steroid untuk menangani peradangan atau glomerulonefritis perubahan minimal.

4. Obat antikoagulan yang digunakan untuk menurunkan risiko penggumpalan darah.

5. Imunosupresan yang digunakan untuk mengurangi inflamasi dan menekan respons abnormal dari sistem kekebalan tubuh.

Komplikasi

Suatu penyakit apabila tidak segera ditangani dengan baik bisa jadi menimbulkan masalah baru atau penyaulit yang kita sebut sebagai komplikasi, komplikasi sindroma nefrotik antara lain:

  1. Gumpalan darah – Biasanya terjadi di pembuluh darah kaki dan kadang-kadang dalam pembuluh darah ginjal. Gumpalan darah juga bisa masuk ke paru-paru dan menyebabkan nyeri dada, sesak napas atau batuk darah.
  2. Dehidrasi – kadar protein yang rendah dapat menyebabkan penurunan volume darah. Pada kasus yang berat, cairan intravena atau infus dapat diberikan untuk memulihkan cairan tubuh.
  3. Infeksi – infeksi dan peradangan rongga peritoneum (peritonitis) bisa berakibat fatal. Gagal ginjal – bila sindrom nefrotik tidak diobati dengan adekuat, maka bisa terjadi gagal ginjal.

Dengan demikian, ada penyakit sindrom nefrotik atau ginjal bocor yang mudah sembuh, contohnya pada minimal change, namun adapula yang sulit bahkan berakhir dengan kondisi terminal, gagal ginjal, deteksi dini dan pengobatan segera dan adekuat sangatlah penting.

Comments

comments